Call me / Ojek Katolik

Versi Bahasa Indonesia di bawah.

Pak Enjon: On Driving, the Big Three, and a better life


This afternoon I stopped in my tracks when I saw this ojek – motorbike taxi. It stands out a mile from the average ojek, especially in the GRUBERJEK era – Grab, Uber, Go-Jek, the Big Three app based taxi (including motorbike taxi) and liftsharing companies that have turned public transport in Jakarta upside down in the few years.

I got chatting with its owner, Pak Enjon, who was from Maluku, which at least partly explains its styling – apparently the Catholic church in (what is now) Indonesia started there in 1534. Pak Enjon didn’t want to me to take his photo, but he was happy to talk about life as a tukang ojek. He’s only just got into the game, having worked as a driver for a private employer until the middle of 2016. He says driving an ojek is a much better gig:

“Now, life is a lot more peaceful. Before, when I was a driver, my boss could bother me at any time. He’d call any time and I had to go. If I was just sitting down to eat and he’d call – I had to walk out and leave my food. He’d call me early morning with no warning – I might be in bed, tired or feeling under the weather, but if I got the call, I had to go. If I was just about to go for a pee and the boss said “Let’s go!”, that was it – I had to hold it. So nowadays things are better – much calmer.”

I got so into this side of the conversation that I forgot to ask about the decorations on his bike, but I did ask how business was for independent ojeks these days. Pak Enjon said that some days he brings home nothing at all – “If you’re an ojek and no one calls, you get nothing, right?”. On a good day he brings in about Rp50,000, about US$4, but it’s usually less.

When I asked him why he doesn’t join one of the Big Three to boost his income he smiled, a little bit malu:

“Yeah, it’s like this… I don’t know how to use a smartphone. I’m old! But no problem – I can sit here reading the paper, waiting for a call.”

Enjoy this edition of #jakartalives? Like, share, or leave a comment – I’d love to hear from you.


Pak Enjon: Kehidupan Sopir, GRUBERJEK dan saat teduh

Tadi siang saya berhenti di jalan melihat motor ini yang cukup istimewa, berbeda sekali dari ojek rata-rata, apa lagi pada zaman GRUBERJEK sekarang ini (yaitu Grab-Uber-GoJek, tiga start-up besar yang telah menjungkirbalikkan transportasi umum di Jakarta selama tiga tahun ini) . Saya ngobrol sebentar dengan pemiliknya, tukang ojek bernama Pak Enjon, dari Maluku. Tempat asalnya Pak Enjon membuat saya lebih paham hiasan Katolik motornya – Gereja Katolik pertama di nusantara dimulai di Maluku pada tahun 1534…

Pak Enjon keluar dari pekerjaan dia sebagai sopir pribadi pada tahun 2016, dan baru satu tahun menjadi ojek. Kata Pak Enjon, lebih enak jadi ojek:

“Sekarang, jauh lebih tenang. Dulu, saya sopir, kapan saja bisa diganggu dipanggil bos. Lagi makan, dipanggil – langsung pergi, meninggalkan nasinya. Pagi-pagi, tidur masih ngantuk, capek, ngak enak badan, di panggil bos – harus berangkat, mau ngak mau. Iya, kita kebelet, tapi bos bilang ‘Yuk! Jalan!’, harus menahan. Maka sekarang saya lebih enak, lebih tenang.”

Sebenarnya, ngak banyak yang dia ceritakan mengenai hiasan ojeknya, tapi saya sempat tanya mengenai ekonomi ojek ‘mandiri’ masa kini. Kata Pak Enjon, kadang dia tidak dapat apa-apa – “Kalau tidak ada panggilan, tidak dapat, kan?”. Keuntungan paling besar dia dapat sekitar lima puluh ribu rupiah, dengan rata-rata di bawah itu. Saat ditanya mengapa dia tidak bergabung dengan salah satu dari tiga besar GRUBERJEK supaya pendapatan lebih tinggi dia jawab dengan senyum sedikit malu: 

“Ya, gini, saya tidak bisa main smartphone, ngak tahu cara memakainya. Tidak apa-apa. Saya baca koran sambil menunggu panggilan.”


On inequality: Drivers of Progress / Kisah dua orang sopir

Scroll down for Indonesian / Lihat ke bawah untuk versi Bahasa Indonesia


Once upon a time…

Cast your mind back to Jakarta’s distant past, two or three years ago, when Go-Jek, Grab and Uber were novelties and Bluebird Taxi was really the only show in town. Sometime back then I happened to have two long chats with Bluebird drivers within the space of a week. These two men, both in their fifties, told me about their lives – stories that started a mere breath apart, but ended with miles between them.

Pak Yusuf

The first driver, Pak Yusuf, came to Jakarta fresh out of middle-school 30 years ago. He left his village in central Java, and arrived in the capital with nothing in his pockets but holes. He slept under bridges, working as an unskilled buruh on building sites, doing anything he could to earn money for food.

Pak Yusuf transitioned to working on local buses as a kenek, a cross between bus conductor and ticket-tout. The kenek is a Jakarta institution – hanging in the bus doorway, shouting for trade, running along beside the bus as they whisk passengers in and out of the doorway, communicating with the driver by rapping morse-code on the windows with a fistful of coins… They’re tough, sipping alternately on cigarettes and diesel fumes. And they’re tired –  I’ve seen keneks asleep on their perches in the doorways of their buses as their drivers wove maniacally through the traffic…

Slowly, Pak Yusuf built a life. Eventually he learned to drive and started working an angkot (minibus) route, which he did for years before switching to taxis and ending up with Bluebird. I asked him how he found it.

“It’s hard, Pak. I take home sixty-, ninety-, a hundred and fifty thousand rupiah (US$11) on a good day – it’s like minimum wage, and it’s not enough. I earn enough for rent and cigarettes, sure, but I’ve got three kids in school and it’s expensive. Money is always tight. Maybe it’ll be better when my oldest finishes high-school and starts working, but for now – continuous work.”


Construction labourers today – the equipment changes, but not the story…

Om Hendra

The second Bluebird driver, Om Hendra, started out the same way. He, too, arrived from his village with an old t-shirt and a pair of jeans to his name, slept under flyovers and started off as a day-labourer. He would sit at the roadside waiting for someone to call him to jump into the back of a truck and go along to dig a foundation, or to carry bricks, cement and steel barefoot and bareheaded to wherever they were needed.

Slowly, he built a life. He drove a becak (bicycle-taxi) for a while – but as he did, he saved up money and sent it back to his brother in the kampung. The brother bought some goats, then sold them, and they bought a cow. When they sold the cow, Om Hendra used the money to learn to drive, and with his new wages they did it again, in time selling their cows to buy a bit of land. Eventually he got married, and his wife ran a little warung while they built a house, laid out with a spare room at the side that they rent out. He told me:

“Praise God, things are comfortable now. Bluebird pays a good wage. One of my kids has just graduated from university our youngest is studying for a degree in mathematics. We have the house, and land in our kampung. With this job I’m my own boss – I can work when I want, and I always meet interesting people. I like driving – the only downside is a sore backside!”

Both Pak Yusuf and Om Hendra have struggled up from zero, and if we visited them in their communities, I suspect we might not see a huge difference between their lifestyles – but one has relative comfort and security while the other remains just one shock from real poverty. Om Hendra’s kids will probably be middle class, while Pak Yusuf’s children – leaving school at 16 or 18 – are likely to get low-paid jobs and struggle on in their father’s footsteps.

It seems to me that the difference between these two men is the thirty-years-in-the-making fruit of a difference in vision and will, the presence or absence of the “first sight and second thoughts” that allowed Om Hendra to really see what he had, imagine a better future, work out how to get there and work steadily to build it.

Look: here are people. Here is inequality.


“New Resident: there are no words as beautiful as prayer”


Pada masa silam…


Melayangkan pikiranmu, mengingat masa silam Ibu Kota, entah dua apa tiga tahun yang lalu… Saat Go-Jek, Grab dan Uber baru mulai populer, dan Bluebird Taxi tetap berjabat sebagai mode transportasi umum unggulan. Pada masa itu, dalam jangka waktu satu minggu kebetulan saya ngobrol lama dengan dua orang sopir Bluebird. Kedua laki-laki ini, dua-duanya berumur lima puluhan, menceritakan pengalaman hidupnya – dua kisah nyata yang pada mulanya sangat mirip – beda kumis doang – tetapi berakhir terpisah jauh.

Pak Yusuf

Sopir pertama, Pak Yusuf, berasal dari Jawa Tengah, dan datang ke Jakarta saat baru lulus SMP, tiga puluh tahun yang lalu. Dia sampai ke Jakarta dengan kantong kering, terpaksa tidur di kolong jembatan dan bekerja sebagai buruh bangunan, apa saja asal dapat uang buat makan.

Lama-lama, Pak Yusuf menjadi kenek – hinggap di pintu metromini, berseru-seru merayu penumpang, lari di samping bis sambil menaikkan dan menurunkan orang dan barang, mengetuk sandi morse di jendela dengan gengaman uang logam – ketok magicnya sang Kenek! Mereka kuat, para kenek – menghisap asap dari rokok, dari knalpot. Mereka juga capek – saya pernah melihat bis-bis selip-selap melaju di jalan raya, membawa kenek berdiri di pintu ketiduran, bergoyang pelan-pelan ke kanan, ke kiri…

Langkah demi langkah, Pak Yusuf membangun hidup yang lebih makmur. Dia belajar menyetir dan membawa angkot selama beberapa tahun dan akhirnya menjadi sopir Bluebird. Saya bertanya kepada dia tentang pengalamannya.

“Susah, Pak. Sehari dapatnya enam puluh-, sembilan puluh-, seratus lima puluh rupiah per hari. Iya, kaya UMR doang, ngak cukup. Uang kontrakkan bisa, rokok bisa, tapi anak saya tiga, lagi di sekolah semua! Sekolah itu mahal – tapi mau gimana lagi? Selalu susah. Mudah-mudahan nanti, setelah yang pertama lulus SMA, dia bekerja, Insyallah lebih gampang jadinya.”


Pekerja bangunan – perlengkapan lebih maju, kisahnya tetap sama…

Om Hendra

Sopir Bluebird yang kedua, Om Hendra, pada mulanya sama ceritanya. Dia datang dari kampung hanya membawa kaos luntur dan celana jeans, tidur di kolong flyover dan bekerja sebagai buruh lepas. Setiap hari dia jongkok di pinggir jalan menunggu panggilan untuk naik truk nyeker, dan pergi untuk menggali fondasi bangunan, angkat batu bata, semen dan besi.

Langkah demi langkah, Om Hendra membangun hidup yang lebih makmur. Dia menjadi tukang becak, dan setiap bulan dia mengirim uang kepada adiknya di kampung. Adik itu beli kambing, lalu menjualnya untuk beli sapi. Ketika sapi itu dijual, Om Hendra memakai uangnya untuk belajar mengemudi. Dia terus mengirim sebagian dari gaji ke adik: mereka beli sapi lagi, tapi kali ini sapi di jual untuk membeli tanah. Lama-lama Om Hendra menikah, dan istrinya jaga warung selama mereka membangun rumah – dengan kamar sebelah yang bisa disewakan kepada orang. Kata dia:

“Alhamdulillah, sekarang kami nyaman. Gaji dari Bluebird lumayan, sih. Anak pertama saya baru lulus kuliah, dan yang paling kecil sekarang kuliah matematika di UI. Kami punya rumah, punya tanah juga di kampung. Saya sopir, jadi bos sendiri – kerja semaunya, kalau capek ngak usah masuk. Setiap hari ketemu dengan orang baru. Saya suka mengemudi – masalahnya hanya pantat doang yang sakit…”

Pak Yusuf dan Om Hendra sama-sama memperjuangkan hidup mereka dari nol, dan kalau kita mampir ke rumah mereka, mungkin tidak ada perbedaan yang begitu nyata – padahal yang satu lumayan makmur, dan yang kedua selalu rawan jatuh miskin lagi. Kemungkinan besar, anak-anak Om Hendra akan masuk kelas menengah, jadi lebih makmur lagi dari orang tuanya. Anaknya Pak Yusuf, yang keluar dari dunia pendikan saat lulus SMA atau SMP, jauh lebih mungkin mengikuti jejak langkah ayah mereka, dan mengalami perjuangan – dan kesulitan – yang sama.

Menurut saya, perbedaan di antara kedua laki-laki ini merupakan buah dari perbedaan visi dan kehendak, yang bertumbuh besar selama tiga puluh tahun. Om Hendra memiliki kemampuan untuk melihat keadaan dia, membayangkan masa depan yang lebih cerah, membuat rencana untuk mencapai visinya, dan bekerja dengan gigih sehingga visi itu diwujudkan.

Lihatlah: di sini ada manusia. Di sini ketidaksetaraan.


Pull’s Ferry: Jakarta, Norwich / Geteknya Pak Tarik: Jakarta, Norwich

Jakarta time machine

“You know this, then” – the branch, which she drew out
From her clothes’ folds… neither spoke.
The hallowed gift amazed him,
The branch of fate – so long since he had seen it!

A sybil pays Charon, ferryman of the Styx
Virgil, Aeneid, 6.406-9


Pak Tarik’s Ferry, West Jakarta flood canal, and Temple

Open your mouth and pay the ferryman. Two thousand rupiah – a little less than twenty U.S. cents, a trifle more than ten U.K. pence – will see you safely across.

Pak Tarik’s been working this stretch of the canal for eighteen years, using current and cable to guide his ferry. Every time I see him – and the others like him across Jakarta’s rivers and canals – I’m reminded of Pull’s Ferry, Norwich, and I wonder how much longer they’ll be around.

Pull’s Ferry is named for John Pull, who lived and worked here carrying people and goods across the river Wensum from 1796 to 1841. The last of the ferrymen retired in 1943.

Pull’s Ferry, Norwich, and Cathedral

Time Travel di Jakarta

“Inilah, kamu kenal”- sebuah ranting, yang dia keluarkan
dari lipatan jubahnya… keduanya diam.
Persembahan suci itu membuat dia takjub,
Rantai Pohon Nasib – betapa lama sejak dia melihatnya!

Seorang sybil membayar Charon, tukang getek di sungai Styx
Virgil, Aeneid, 6.406-9


Pull’s Ferry, Norwich, c.1890

Bukalah mulutmu; membayar sang tukang getik. Dua ribu perak buat menyeberang.

Pak Tarik telah bekerja di sini selama delapan belas tahun, memakai arus air dan kabel baja untuk mengemudikan geteknya. Setiap kali saya melihatnya – dan tukang getek lain di sungai dan kanal Jakarta – saya teringat akan Pull’s Ferry, di kota Norwich, Inggris. Dan saya bertanya dalam hati – berapa lama lagi akan ada tukang getek seperti ini di Jakarta?

Pull’s Ferry dinamai untuk John Pull, yang mengangkut barang dan orang menyeberangi sungai Wensum selama empat puluh lima tahun dari tahun 1796 sampai tahun 1841, tukang getek atau ferryman yang paling lama karirnya. Dia bukan yang terakhir – Ferryman terakhir di Norwich pensiun pada tahun 1943 – baru sekejap mata yang lalu.


Job done

Pramoedya Ananta Toer on Jakarta streets, 1951 / tentang jalanan Jakarta, 1951

Banyakkah perubahan sejak tahun 1951?



Panas waktu itu. Dan mobil yang berpuluh ribu banyaknya itu menyemburkan debu pada badan yang berkeringat. Dan debu yang merupakan berbagai macam campuran: reak kering, tahi kuda, hancuran ban mobil, hancuran ban sepeda dan becak dan barangkali juga hancuran ban sepedaku sendiri yang kemarin meluncuri jalan-jalan yang kulalui kini. Dan debu yang berpancaragam itu melengket bersama keringat seperti lem pada badan. Ini membuat aku memaki sedikit – sedikit saja – dalam hati.

Ya, sekiranya aku punya mobil – sekiranya, kataku – semua ini mungkin takkan terjadi. Di kala itu juga aku berpendapat; bahwa orang yang punya itu banyak menimbulkan kesusahan pada yang tak punya. Dan mereka tak merasai ini.

Pramoedya Ananta Toer, Bukan Pasar Malam

How much has changed since 1951?


It was hot then. And cars in their tens of thousands sprayed dust onto sweating bodies. And the dust was a mixture: dried spit, horse shit, tiny crumbs of car tyre, pieces of bike and bejak tyres and maybe even the powdered tyres of my own bike, which only yesterday sped along the very streets I passed through now. And this mixed dust stuck to my sweat and covered my body like glue. This made me curse a little – just a little – in my heart.

Yes, if only I had a car – if only, I said – all this might never have happened. At that time too, I thought: people who have cars cause many problems for those who don’t. And they don’t feel it.

Pramoedya Ananta Toer, Bukan Pasar Malam, It’s Not an All Night Fair


A tale of two farmers / Kisah dua orang petani

Take… the instance of two farmers engaged in cultivating farms as like as possible. The one had never done asserting that agriculture has been his ruin, and is in the depth of despair; the other has all he needs in abundance and of the best, and how acquired?—by this same agriculture.

Socrates in Xenophon, The Economist, Book 1.3 (US/UK)

On inequality

What makes the difference between those who start and stay poor, and those who prosper? I suppose people asked this question before Socrates, and I ask myself the same thing on the streets of Jakarta all the time.

I know a guy who’s been working the same real estate – a strip of land by a railway line – for 25 years. He’s ‘bought’ this land, developed houses, sold them, rinsed and repeated – and stayed exactly where he was when he started out, earning most of his living singing in the doorways of city buses with his wife and kids, bringing in a few dollars day.


Railside real estate

A few weeks ago I met another man about the same age, raised by a single mother in a rough area of Jakarta, with a dirt floor and walls of bamboo-weave anyaman. He started small, got into property and now owns a shopping mall, lives in a baroque palace in a gated community. I’m not sure he’s happier, but one thing is beyond doubt: in material terms at least, you’ve come a long way, baby.


A still from a hastily grabbed video of life in another Jakarta

Some go up, while others just about get along. I don’t know if it’s fair, but the city is woven from lives like these.

Tentang ketidaksetaraan

Sebagai contoh, ambil… dua orang petani yang sedang bercocok tanam, yang dua-duanya mempunyai ladang yang hampir sama, sama luasnya, sama subur. Petani yang satu tidak berhenti mengeluhkan susahnya bercocok tanah di ladang itu, penyebab kemiskinannya, dan sudah putus asa; petani yang kedua bisa menemuhi segala kebutuhannya, hidup makmur sentosa, penuh dengan yang terbaik. Dan dari manakah dia mendapat itu semua? Dari usaha pertanian yang sama persis.

Socrates dalam Xenophon, The Economist, Buku 1.3 (US/UK)

Apa sebabnya ada orang yang miskin dari lahir sampai mati, dan ada juga yang lahir dalam kemiskinan tetapi menjadi kaya? Saya yakin hal ini sudah dipertimbangkan orang sebelum Socrates, dan saya bergumul dengan pertanyaan yang sama hampir setiap hari di pinggir jalan ibu kota Jakarta.

Saya mengenal seorang bapak yang telah main properti selama 25 tahun – yaitu, properti yang dimilki PTKA di pinggiran rel kereta api. Sudah berkali-kali dia ‘membeli’ properti tersebut dari pihak berwenang, membangun rumah kecil, menjualnya demi keuntungan. Tetapi bapak ini – yang sudah jelas orang berakal – masih tinggal di tempat yang sama di pinggir rel, mengamen dengan anak-isteri untuk mencari nafkah, menghasilkan beberapa puluh ribu rupiah per hari saja.


Beberapa minggu yang lalu saya sempat ketemu dengan seorang bapak lain, yang sama usianya dengan bapak pertama itu. Dia lahir di tempat kumuh di Jakarta, rumah berlantai tanah, berdinding anyaman bambu. Bapaknya kabur saat dia masih bayi. Mulai dari kecil, dia berbisnis dan juga masuk dunia properti, sehingga sekarang dia memiliki mal besar di Jakarta dan tinggal di sebuah istana di perumahan ekslusif. Saya tidak tahu apakah hatinya lebih senang daripada bapak yang satu di atas, tapi ada hal yang tak boleh diragukan – kalau memandang harta kekayaan, you’ve come along way baby.

Ada yang naik daun, ada yang terjebak pada musim gugur. Dikatakan adil, dikatakan tidak, inilah tenunan hidup di ibu kota.

Ibu Y


An actual house

I first met Ibu Y four years ago, when she was living under canvas beside a railway line in Jakarta with her husband and this cat.

Since then, she’s moved house twice, once to a plywood room next to a flood canal, and more recently to another plywood partition inside an actual house nearby. An actual house.

To me, this looked like the progress I’d been hoping for on her behalf. She still has no bathroom or cooking facilities, but her new place is rainproof, more secure, and easier to keep clean than the mud-and-litter surroundings of her old shelter by the railway. It’s relatively free from the smoke of burning plastic.

It seems so clear that this is a better place to live, a step forward and upwards on the long climb to what I think of as a better life. But as we were chatting, she told me how she felt: her new place was okay, but really Ibu Y longs for those days – only a year or so ago – when she lived under canvas by the side of those tracks.

“Friends could come any time, we could get together and do what we wanted. And if someone needed a place to sleep for the night, they could stay as long as they wanted. There was family feeling with our neighbours, we looked out for each other but had our own patches and didn’t interfere in each other’s lives.”

Now that she and her husband live in a legal neighbourhood, it’s harder for Ibu Y’s friends to come and go. They have to report overnight guests, and neighbours complain to the local leader if there are too many visitors.

“Here, they tell us to send people away, to keep quiet, and to tidy up. By the railway, it was ‘You, you; me, me.’ We were free. And when the train company cleared our houses, we flew away – like birds.”

Rumah sejati

Saya bertemu dengan Ibu Y empat tahun yang lalu. Pada saat itu dia tinggal di bawah terpal bersama suami dan kucingnya. Rumahnya sebuah gubuk di pinggiran rel kereta api di Jakarta.

Sejak saat itu dia sudah pindah dua kali, yang pertama kali ke “apartemen tripleks” (bukan duplex) di tanggul kali banjir. Tidak lama yang lalu dia pindah lagi ke tempat yang sekarang, yang juga merupakan sekamar tripleks, tetapi terletak di dalam sebuah rumah tua. Sebuah rumah sejati.

Bagi saya, ini kemajuan yang nyata, yang sudah lama diharapkan – Ibu Y sudah naik satu jenjang menuju taraf hidup yang lebih baik. Rumah dia sekarang lebih aman, tidak bocor, lebih mudah dibersihkan dibandingkan tanah dan sampah di sekitar tempat tinggal dia yang lama. Rumah ini pun ruangan bebas asap dari pembakaran plastik.

Tetapi makin lama kami ngobrol, makin jelas: tumpangan yang sekarang lumayan sih, tetapi Ibu Y sangat merindukan tempat tinggalnya yang dulu, tidak lama yang lalu, yang atapnya sehelai terpal tipis.

“Di sana orang bisa datang kapan saja, kami bisa berkumpul, kalau ada teman mau nginap, semalam, seminggu, tidak apa-apa. Kami kan saudara, punya tempat masing-masing tapi saling menghargai, memperhatikan. Tapi bebas juga, kalau lo mau begitu, aku mau begini tidak apa-apa, namanya lu lu gue gue, kan?”

“Sekarang mah, orang bikin susah, kalau ada tamu harus lapor, ngak boleh yang banyak, ngak boleh berisik. Kalau ada sampah, orang bilang sama Pak RT, disuruh bersiin. Lebih enak di rel. Kami orang yang… maunya bebas. Setelah digusir sama PTKA, kami bubar, pergi ke mana-mana – seperti burung.”

The best house in Jakarta / Rumah terbaik di Jakarta

What if you could always get the best table in the house?

I was just listening to Tim Ferriss and Adam Robinson talking about how your attitude can change everything – specifically, seeking to delight other people, wherever you are. They shared an anecdote about how an interaction with a waiter at a fully booked restaurant resulted in their being seated at the best table in the house when they didn’t even have a reservation.

Whether or not it actually was the best table in the house, they clearly had a great time, and it got me thinking: wherever you are, the best table in the house is always the one you are sitting at with your friends.

This new angle on an old idea reminded me a bit of this classic song by Koes Plus, (“Hati senang walaupun tak punya uang, ooh!” / “My heart is happy even though I have no money, ooh!” – it sounds better in Indonesian!)  as true and as false as it is.

On this road, down my gang (alleyway). Look! I live in the best house in Jakarta.

Bagaimanakah kamu bisa tinggal di rumah terbaik di kotamu?

Saya barusan mendengarkan The Tim Ferris show episode #219, wawancara dengan Adam Robinson. Pada akhir wawancara itu, Adam membicarakan sikap hati yang selalu ingin menyenangkan atau menginsipirasi orang lain. Mereka menceritakan malam sebelumnya, saat mereka mau makan di restoran yang sudah penuh. Walaupun tidak punya reservasi, oleh karena cara Adam berinteraksi dengan pelayannya mereka diberikan meja yang paling bagus di resto tersebut. Tentu saja mereka senang.

Lalu timbullah pikiran – kalau hati kita penuh rasa syukur dan kita ingin menjadi berkat bagi sesama, di mana saja kita berada, kita selalu duduk di meja terbaik di resto.

Versi baru dari ide lama ini mengingatkan saya akan lagu Bujangan dari Koes Plus, lagu yang sekaligus benar dan tidak.

Di jalan ini, lewat gang situ – lihatlah! – saya tinggal di rumah terbaik di Jakarta.

A peck on the chick / patuk kasih



I think, therefore ayam

The chickens of Jakarta hold a particular place in my affections. From the strutting ayam jago (cockerel) to the scrawniest old hen, I admire the way they scrape out a living in the alleyways, yards and drains of the city. The guys in this picture are my neighbours.

Ayam Megapolitan

Bukan “ayam kampung” lagi, kan? Menurut saya, ayam megapolitan layak dikagumi: perjuangan mereka untuk hidup di tengah hiruk pikuk ibu kota cukup luar biasa, menggaruk nafka dari tumpukan sampah, debu jalanan dan air limbah rumah tangga di selokan. Kedua bersaudara ini tetangga saya.