Pramoedya Ananta Toer on Jakarta streets, 1951 / tentang jalanan Jakarta, 1951

Banyakkah perubahan sejak tahun 1951?

wp-1488267465674.jpg

 

Panas waktu itu. Dan mobil yang berpuluh ribu banyaknya itu menyemburkan debu pada badan yang berkeringat. Dan debu yang merupakan berbagai macam campuran: reak kering, tahi kuda, hancuran ban mobil, hancuran ban sepeda dan becak dan barangkali juga hancuran ban sepedaku sendiri yang kemarin meluncuri jalan-jalan yang kulalui kini. Dan debu yang berpancaragam itu melengket bersama keringat seperti lem pada badan. Ini membuat aku memaki sedikit – sedikit saja – dalam hati.

Ya, sekiranya aku punya mobil – sekiranya, kataku – semua ini mungkin takkan terjadi. Di kala itu juga aku berpendapat; bahwa orang yang punya itu banyak menimbulkan kesusahan pada yang tak punya. Dan mereka tak merasai ini.

Pramoedya Ananta Toer, Bukan Pasar Malam

How much has changed since 1951?

wp-1488267142808.jpg

It was hot then. And cars in their tens of thousands sprayed dust onto sweating bodies. And the dust was a mixture: dried spit, horse shit, tiny crumbs of car tyre, pieces of bike and bejak tyres and maybe even the powdered tyres of my own bike, which only yesterday sped along the very streets I passed through now. And this mixed dust stuck to my sweat and covered my body like glue. This made me curse a little – just a little – in my heart.

Yes, if only I had a car – if only, I said – all this might never have happened. At that time too, I thought: people who have cars cause many problems for those who don’t. And they don’t feel it.

Pramoedya Ananta Toer, Bukan Pasar Malam, It’s Not an All Night Fair

wp-1488266317858.jpg

Advertisement

A tale of two farmers / Kisah dua orang petani

Take… the instance of two farmers engaged in cultivating farms as like as possible. The one had never done asserting that agriculture has been his ruin, and is in the depth of despair; the other has all he needs in abundance and of the best, and how acquired?—by this same agriculture.

Socrates in Xenophon, The Economist, Book 1.3 (US/UK)

On inequality

What makes the difference between those who start and stay poor, and those who prosper? I suppose people asked this question before Socrates, and I ask myself the same thing on the streets of Jakarta all the time.

I know a guy who’s been working the same real estate – a strip of land by a railway line – for 25 years. He’s ‘bought’ this land, developed houses, sold them, rinsed and repeated – and stayed exactly where he was when he started out, earning most of his living singing in the doorways of city buses with his wife and kids, bringing in a few dollars day.

railside-property

Railside real estate

A few weeks ago I met another man about the same age, raised by a single mother in a rough area of Jakarta, with a dirt floor and walls of bamboo-weave anyaman. He started small, got into property and now owns a shopping mall, lives in a baroque palace in a gated community. I’m not sure he’s happier, but one thing is beyond doubt: in material terms at least, you’ve come a long way, baby.

gated-community

A still from a hastily grabbed video of life in another Jakarta

Some go up, while others just about get along. I don’t know if it’s fair, but the city is woven from lives like these.

Tentang ketidaksetaraan

Sebagai contoh, ambil… dua orang petani yang sedang bercocok tanam, yang dua-duanya mempunyai ladang yang hampir sama, sama luasnya, sama subur. Petani yang satu tidak berhenti mengeluhkan susahnya bercocok tanah di ladang itu, penyebab kemiskinannya, dan sudah putus asa; petani yang kedua bisa menemuhi segala kebutuhannya, hidup makmur sentosa, penuh dengan yang terbaik. Dan dari manakah dia mendapat itu semua? Dari usaha pertanian yang sama persis.

Socrates dalam Xenophon, The Economist, Buku 1.3 (US/UK)

Apa sebabnya ada orang yang miskin dari lahir sampai mati, dan ada juga yang lahir dalam kemiskinan tetapi menjadi kaya? Saya yakin hal ini sudah dipertimbangkan orang sebelum Socrates, dan saya bergumul dengan pertanyaan yang sama hampir setiap hari di pinggir jalan ibu kota Jakarta.

Saya mengenal seorang bapak yang telah main properti selama 25 tahun – yaitu, properti yang dimilki PTKA di pinggiran rel kereta api. Sudah berkali-kali dia ‘membeli’ properti tersebut dari pihak berwenang, membangun rumah kecil, menjualnya demi keuntungan. Tetapi bapak ini – yang sudah jelas orang berakal – masih tinggal di tempat yang sama di pinggir rel, mengamen dengan anak-isteri untuk mencari nafkah, menghasilkan beberapa puluh ribu rupiah per hari saja.

wp-1487844328566.jpg

Beberapa minggu yang lalu saya sempat ketemu dengan seorang bapak lain, yang sama usianya dengan bapak pertama itu. Dia lahir di tempat kumuh di Jakarta, rumah berlantai tanah, berdinding anyaman bambu. Bapaknya kabur saat dia masih bayi. Mulai dari kecil, dia berbisnis dan juga masuk dunia properti, sehingga sekarang dia memiliki mal besar di Jakarta dan tinggal di sebuah istana di perumahan ekslusif. Saya tidak tahu apakah hatinya lebih senang daripada bapak yang satu di atas, tapi ada hal yang tak boleh diragukan – kalau memandang harta kekayaan, you’ve come along way baby.

Ada yang naik daun, ada yang terjebak pada musim gugur. Dikatakan adil, dikatakan tidak, inilah tenunan hidup di ibu kota.

Ibu Y

ibu-yuyun

An actual house

I first met Ibu Y four years ago, when she was living under canvas beside a railway line in Jakarta with her husband and this cat.

Since then, she’s moved house twice, once to a plywood room next to a flood canal, and more recently to another plywood partition inside an actual house nearby. An actual house.

To me, this looked like the progress I’d been hoping for on her behalf. She still has no bathroom or cooking facilities, but her new place is rainproof, more secure, and easier to keep clean than the mud-and-litter surroundings of her old shelter by the railway. It’s relatively free from the smoke of burning plastic.

It seems so clear that this is a better place to live, a step forward and upwards on the long climb to what I think of as a better life. But as we were chatting, she told me how she felt: her new place was okay, but really Ibu Y longs for those days – only a year or so ago – when she lived under canvas by the side of those tracks.

“Friends could come any time, we could get together and do what we wanted. And if someone needed a place to sleep for the night, they could stay as long as they wanted. There was family feeling with our neighbours, we looked out for each other but had our own patches and didn’t interfere in each other’s lives.”

Now that she and her husband live in a legal neighbourhood, it’s harder for Ibu Y’s friends to come and go. They have to report overnight guests, and neighbours complain to the local leader if there are too many visitors.

“Here, they tell us to send people away, to keep quiet, and to tidy up. By the railway, it was ‘You, you; me, me.’ We were free. And when the train company cleared our houses, we flew away – like birds.”

Rumah sejati

Saya bertemu dengan Ibu Y empat tahun yang lalu. Pada saat itu dia tinggal di bawah terpal bersama suami dan kucingnya. Rumahnya sebuah gubuk di pinggiran rel kereta api di Jakarta.

Sejak saat itu dia sudah pindah dua kali, yang pertama kali ke “apartemen tripleks” (bukan duplex) di tanggul kali banjir. Tidak lama yang lalu dia pindah lagi ke tempat yang sekarang, yang juga merupakan sekamar tripleks, tetapi terletak di dalam sebuah rumah tua. Sebuah rumah sejati.

Bagi saya, ini kemajuan yang nyata, yang sudah lama diharapkan – Ibu Y sudah naik satu jenjang menuju taraf hidup yang lebih baik. Rumah dia sekarang lebih aman, tidak bocor, lebih mudah dibersihkan dibandingkan tanah dan sampah di sekitar tempat tinggal dia yang lama. Rumah ini pun ruangan bebas asap dari pembakaran plastik.

Tetapi makin lama kami ngobrol, makin jelas: tumpangan yang sekarang lumayan sih, tetapi Ibu Y sangat merindukan tempat tinggalnya yang dulu, tidak lama yang lalu, yang atapnya sehelai terpal tipis.

“Di sana orang bisa datang kapan saja, kami bisa berkumpul, kalau ada teman mau nginap, semalam, seminggu, tidak apa-apa. Kami kan saudara, punya tempat masing-masing tapi saling menghargai, memperhatikan. Tapi bebas juga, kalau lo mau begitu, aku mau begini tidak apa-apa, namanya lu lu gue gue, kan?”

“Sekarang mah, orang bikin susah, kalau ada tamu harus lapor, ngak boleh yang banyak, ngak boleh berisik. Kalau ada sampah, orang bilang sama Pak RT, disuruh bersiin. Lebih enak di rel. Kami orang yang… maunya bebas. Setelah digusir sama PTKA, kami bubar, pergi ke mana-mana – seperti burung.”

The best house in Jakarta / Rumah terbaik di Jakarta

What if you could always get the best table in the house?

I was just listening to Tim Ferriss and Adam Robinson talking about how your attitude can change everything – specifically, seeking to delight other people, wherever you are. They shared an anecdote about how an interaction with a waiter at a fully booked restaurant resulted in their being seated at the best table in the house when they didn’t even have a reservation.

Whether or not it actually was the best table in the house, they clearly had a great time, and it got me thinking: wherever you are, the best table in the house is always the one you are sitting at with your friends.

This new angle on an old idea reminded me a bit of this classic song by Koes Plus, (“Hati senang walaupun tak punya uang, ooh!” / “My heart is happy even though I have no money, ooh!” – it sounds better in Indonesian!)  as true and as false as it is.

On this road, down my gang (alleyway). Look! I live in the best house in Jakarta.

Bagaimanakah kamu bisa tinggal di rumah terbaik di kotamu?

Saya barusan mendengarkan The Tim Ferris show episode #219, wawancara dengan Adam Robinson. Pada akhir wawancara itu, Adam membicarakan sikap hati yang selalu ingin menyenangkan atau menginsipirasi orang lain. Mereka menceritakan malam sebelumnya, saat mereka mau makan di restoran yang sudah penuh. Walaupun tidak punya reservasi, oleh karena cara Adam berinteraksi dengan pelayannya mereka diberikan meja yang paling bagus di resto tersebut. Tentu saja mereka senang.

Lalu timbullah pikiran – kalau hati kita penuh rasa syukur dan kita ingin menjadi berkat bagi sesama, di mana saja kita berada, kita selalu duduk di meja terbaik di resto.

Versi baru dari ide lama ini mengingatkan saya akan lagu Bujangan dari Koes Plus, lagu yang sekaligus benar dan tidak.

Di jalan ini, lewat gang situ – lihatlah! – saya tinggal di rumah terbaik di Jakarta.

A peck on the chick / patuk kasih

 

wp-1486553346257.jpg

I think, therefore ayam

The chickens of Jakarta hold a particular place in my affections. From the strutting ayam jago (cockerel) to the scrawniest old hen, I admire the way they scrape out a living in the alleyways, yards and drains of the city. The guys in this picture are my neighbours.

Ayam Megapolitan

Bukan “ayam kampung” lagi, kan? Menurut saya, ayam megapolitan layak dikagumi: perjuangan mereka untuk hidup di tengah hiruk pikuk ibu kota cukup luar biasa, menggaruk nafka dari tumpukan sampah, debu jalanan dan air limbah rumah tangga di selokan. Kedua bersaudara ini tetangga saya.

Pramoedya Ananta Toer on stories / tentang cerita

wp-1486301796485.jpg

Tentang cerita

Cerita, …, selamanya tentang manusia, kehidupannya, bukan kematiannya. Ya, biarpun yang ditampilkannya itu hewan, raksasa atau dewa atau hantu. Dan tak ada yang lebih sulit dapat difahami daripada sang manusia… jangan anggap remeh si manusia, yang kelihatannya begitu sederhana; biar penglihatanmu setajam mata elang, pikiranmu setajam pisau cukur, perabaanmu lebih peka dari para dewa, pendengeranmu dapat menangkap musik dan ratap-tangis kehidupan; pengetahuanmu tentang manusia takkan bakal bisa kemput.

– Pramoedya Ananta Toer, dari kata pengantar dari Bumi Manusia, edisi Lentera Dipantara, 2005.

On Stories

“Stories, …, are always about mankind, our lives, not our deaths. Yes, even when they are about animals, monsters, or gods or ghosts. And there’s nothing more difficult to understand than great mankind… No, don’t underestimate little mankind, however simple they may look; be your eyes as sharp as eagles’, your thoughts as sharp as a razorblade, your touch more delicate than the gods’, your ears attuned to the music and the lamentations of life; your knowledge of mankind can never, ever be complete.”

– Pramoedya Ananta Toer, from the introduction to Bumi Manusia (This Earth of Mankind),
Lentera Dipantara edition, 2005.

JakartaLives! / nafas ibu kota

wp-1486303156677.jpg

The breath of a city

Say what you like about Jakarta – its traffic, pollution, political games and open drains – the city is alive. And it’s changing before our very eyes. Growth stalks the capital while its older faces fade away.

The alleyways, hawkers, and street urchins of Dickens have long since disappeared from London. How much longer will Jakarta know kaki-lima, rag-and-bone men, labourers sleeping under bridges, scavengers and their children living along railway lines?

These people, and the rich too, and the exploding middle class – these Jakarta lives may not be the pulse of the city, but they are its breath. Day in, day out. Hot, ragged, smooth, cool.

Ready. Steady. Gone.

Nafas ibu kota

Apa saja yang dikatakan mengenai Jakarta – tentang kemacetan, polusi, wayang politik dan air gotnya – kota ini hidup. Dan dia berubah di depan mata kita. Di mana saja, tumbuh, seketika juga wajah lamanya lenyap.

Dulu, kota London juga punya gang kecil, pedagang asongan dan anak jalanan, pada zaman Charles Dickens. Berapa lama lagikah masih akan ditemukan di ibu kota kaki lima, tukang barang, buruh harian tertidur di kolong flyover, keluarga pemulung hidup di bawah terpal di bantaran rel kereta api?

Rakyat ini – orang kaya juga, serta kelas menengah itu yang lagi meledak – rakyat ini mungkin bukan denyut jantung ibu kota, tetapi mereka hembusan nafasnya. Hari lepas hari. Panas. Sesak. Lancar. Adem.

Siapkan dirimu.

Siap. Siap. Lenyap.